Pemerintah dan Seniman

Dalam kebudayaan Aceh, pemerintah dan seniman berjalan seiring dalam membangun peradaban. Pemisahan antara kaum intelektual seperti seniman dilakukan oleh orang Barat terhadap negeri jajahan. Mereka sengaja menjarakkan pemerintah dari sendi-sendinya agar kekuatan sebuah bangsa atau negara hilang. Ini perlu diluruskan sekarang. Bahkan, orang-orang berpotensi sekalipun masih terjebak dalam alur pikir seperti tadi. Baca selanjutnya »

Sadar Sejarah (Kolom MANIFESTO PERADABAN, Harian Aceh, Ahad 29 April 2012)

Menyedihkan, pemerintah dan rakyat Aceh di Aceh tidak memperingati hari-hari penting dalam sejarahnya. Namun, di luar negeri misalnya Malaysia, generasi Aceh di sana memperingati hari-hari bersejarah dalam peradaban Aceh. 26 Maret 2012 lalu, acara berskala internasional dilaksanakan untuk memperingati ultimatum Perang oleh Belanda terhadap Sultan Aceh pada 26 Maret 1873.

Acara ini dihadiri banyak pakar sejarah dari berbagai negara untuk membahas Aceh, termasuk M Adli Abdullah Bawarewth Al-Asyi. Baca selanjutnya »

Kesultanan Aceh Darussalam dalam Manuskrip

Salah satu referensi utama dan otentik dalam mengungkapkan sejarah Kesultanan Aceh Darussalam adalah manuskrip (naskah kuno), di antaranya yang terpenting berjudul Bustanus Salatin fi Zikr al-Awwalin wal Akhirin (Bustanus Salatin), yaitu satu-satunya kitab fenomenal yang disusun pada abad ke-17, tepatnya pada masa Iskandar Muda (1607-1636) dan Sultan Iskandar Tsani (1636-1641), dan telah mempengaruhi penulisan karya pada abad-abad selanjutnya. Kitab historis sekaligus memiliki nilai sastra ini terdiri 7 bab, dan khusus gambaran tentang Kesultanan Aceh dan geneologi pemimpinnya pada periode tersebut bearada di bab 2 pasal 13.

Pada masa tersebut, kitab inilah paling lengkap menceritakan kisah raja-raja Melayu secara universal, termasuk Kesultanan Aceh Darussalam. Kitab karya ulama non-Aceh Syekh Nuruddin Muhammad ibn Ali ibn Hasanji ibn Muhammad Hamid ar-Raniri, berasal dari Gujarat-India. Jika merujuk kepada kandungan isi naskah maka bisa ditemukan antara bab dan pasal saling bersinambungan dan berkaitan, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa kitab ini dikarang secara periodik dan kontinue sebelum dan setelah berada di Aceh. Baca selanjutnya »

Makna 501 Tahun Peringatan Kesultanan Aceh Darussalam

Oleh Dr. Mehmet Ozay

Tiada masyarakat tanpa sejarah. Telah lama ditanyakan sejarah apa yang mendidik kita. Saat ini kita hidup di zaman postmodern yang merupakan fase terakhir dalam filosofi barat. Sebagaimana kerap kali dinyatakan bahwa tahap tersebut adalah tahap di mana segalanya dianggap relatif dan setiap sesuatu mungkin dipercayai. Akibatnya terjadi banyak tekanan, khususnya dalam politik. Dan tanpa dapat dipungkiri, ikut mempengaruhi persepsi kita akan sejarah baik secara langsung maupun tidak.

Berbeda halnya dengan barat, Islam tidak mengulang paradigma-paradigma yang sama seperti barat. Alasan mengangkat topik ini dengan paragraf-paragraf sederhana adalah untuk mengingatkan masyarakat kita tentang makna sejarah. Oleh karena itu, pembaca diharapkan dapat menjawab pertanyaan: sejarah mengajarkan apa pada kita? Baca selanjutnya »

Jeumpa Rani (Dimensi Taqdir)

Cerpen Karya Lodin

Lewat pucuk awan putih bergulung di angkasa sinar senja membawa semilir menerpa bunga-bunga jeumpa memungut harumnya menebar ke seluruh penjuru. Rani menyandarkan kepalanya di kursi santai seraya merentangkan kedua tangannya ke atas, kebiasaannya untuk melepaskan penat setelah dua jam lebih mengetik. Ia baru selesai menulis sebuah artikel untuk berita harian yang akan terbit besok pagi. Rani menutup dan meletakkan notebook pinknya di atas meja kaca warna merah jambu taman.

“Rani”! Terdengar suara Shahla Camelia dari dapur.

Rani bangkit dari kursi cantik berwarna silver, bergegas melangkah membuat beberapa tungkai bunga-bunga mawar meliuk-liuk terkena rok kembang bergambar bunga mawar warna merah jambunya. “Rani”! Ayah sudah pulang belum?” Tanya Shahla Camelia ibu rani dengan suara khas lembutnya seraya memilih-milih panci mana yang cocok buat merebus sayur bening lauk kesukaan keluarga Rani.

Bunga-bunga jeumpa layu di liuk-liuk angin bertaburan di depan teras rumah Rani. Sebuah sedan hitam mewah buatan Italia berbelok menembus gerbang masuk dan berhenti di bawah pohon jeumpa halaman rumah. Rani menuju halaman. Tuan Ghani merunduk keluar dari sedan. Melihat Rani muncul, Tuan Gani berseru, “Hai Rani, ke sini cepat, bantu ayah membawa barang-barang ini ke dalam!” Baca selanjutnya »

Pantai Barat (Nukilan Novelet Aceh 2021 M)

Nagan Raya 2021 M

Pertunjukan seni budaya tahunan Nagan Raya belangsung di Gedung Kesenian Rakyat. Gedung bercurak Aceh itu bermuatan sepuluh ribu pengunjung dan dua ratus panitia. Tempat latihan dan pertadingan aneka olahraga ada dalam gedung di atas tanah satu kilometer persegi itu. Gedung sebesar ini dengan fasilitas sama ada di setiap kota besar pusat wilayah di Aceh da pertunjukan seni budaya tahunan seperti di Nagan Raya pun ada di setiap kota itu. Atap gedung itu bisa dibuka, tempat parkir di lantai bawah tanah.

Teuku Ben Suren dan Cut Sharifa Hayati tidak kebagian karcis tanda nomor bangku. Mereka menuju pintu utama, menghadap petugas keamanan. Penjaga pintu berbadan tegap melarang mereka masuk.

“Ini sekedar uang jajan, kami mau masuk,” Teuku Ben Suren menyerahkan dua lembar uang.

“Simpan uang burukmu, Tuan. Kursi telah penuh. Kalau mau menonton, tolong pesan tempat seminggu sebelum acara sehingga jika tempat penuh panitia bisa mencari cara untuk mengadakan tempat duduk bagi peminat yang tidak kebagian kursi. Apakah saya harus tulis surat pengaduan kepada penegak hukum bahwa Tuan merusak undang-undang negeri ini karena ingin membeli hukum pada petugas negara agar hukum tidak ditegakkan?” Kata penjaga pintu dengan suara lembut tapi tegas. Baca selanjutnya »

Jembatan ke Sabang

(Nukilan Novelet ‘Aceh 2021 M’ Karya Thayeb Sulaiman)

Jembatan Banda Aceh – Sabang, 2 Februari 2021 M.

Teuku Ben Suren dan Cut Sharifa Hayati di Banda Aceh yang kini dijuluki Kota Tua. Banda Aceh telah diubah. Masjid Raya, Lapangan Blang Padang, Taman Sari dan Museum Tsunami Aceh hanya dipisahkan jalan seluas lima puluh meter. Rumah, jalan, pertokoan dan bangunan lain di sekeliling mesjid Raya Baiturrahman telah dipindahkan. Istana Dalam Kesultanan Aceh Darussalam didirikan kembali sebagai sebuah keajaiban dunia yang pernah hilang, menjadi tempat wisata antara bangsa. Semua urusan pemerintahan wilayah Banda Aceh diatur dari istana itu. Universitas terbesar di Sumatra telah dibangun di kampung Dayah Raya sebagaimana di masa awalnya Kota Tua ini dulu dibangun. Pelabuhan Laksamana Hayati telah direhap bisa mendarat kapal-kapal besar dari semua negara, pelabuhan laut ini terbesar kedua di Sumatra setelah Pelabuhan Teungku Malem Diwa di Krueng Geukueh. Di tepi selatannya jalan layang dan jalur kereta rel listrik ke Singkil dibangun.

Teuku Ben Suren dan Cut Sharifa Hayati menuju pelabuhan Ulee Lheue. Sembilan bangkai kapal laut dirantai di sisi bekas pelabuhan. Kapal itu tidak diperlukan lagi. Jembatan antara Banda Aceh – Sabang telah selesai dibangun empat tahun lalu, dalam dua tahun selesai, ini tahun kedua digunakan. Baca selanjutnya »

Mengapa Zani-Zakir Menang?

Menangnya pasangan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf (Zaini-Zakir) pada pilkada gubernur karena berbagai sebab. Walau jika ditilik dari segi hakikat, semuanya takdir Allah. Sepanjang sejarah manusia, baik disukai atau tidak, orang-orang perang mutlak menguasai wilayah selama 10 tahun setelah damai.

Setelahnya, ingatan masyarakat pada perang sudah pudar dan berkembang kembali sehingga jika sesuai dengan rakyat, orang-orang tersebut memimpin kembali. Partai Aceh (PA) yang dibentuk oleh mantan GAM tidaklah seperti partai kebanyakan. Kalau bisa disebut, PA bukan partai, ianya dibentuk oleh Komite Peralihan Aceh (KPA) produk mantan GAM karena tuntutan keadaan setelah MoU Helsinki 15 Agustus 2005.

PA militan, menguasai sistem pemerintahan sampai seluruh kampung di Aceh. Mereka jago mempengaruhi penduduk, baik dengan cara halus maupun dengan cara kurang halus. Ini tidak mungkin dilakukan oleh partai manapun yang bukan lahir dari perubahan gerakan perjuangan. Pengalaman pahit ditemukan PA selama lima tahun masa Irwandi-Nazar menjadi gubernur yang diusung orang-orang yang kemudian membentuk PA. Baca selanjutnya »

Siapa Peduli?

Cangpanah Harian Aceh, Jumat 13 Agustus 2010 |  Thayeb Loh Angen

Di rantau orang, kawanku, banyak cerita yang terukir. Dari cerita duka, mahaduka, atau cerita jaya, bahkan cerita mahajaya. Cerita mahajaya seperti dialami orang nomor dua terkaya di dunia, Carlos Slim, ia seorang keturunan perantau dari Lebanon yang jadi pengusaha telekomunikasi di Negara Kolombia, yang kekeyaannya hampir menyamai Kekayaan negara tersebut.

Cerita duka pun banyak terjadi, bahkan lebih banyak dari cerita jaya, ini persis diucapkan Sam Bimbo, “Dunia dipenuhi orang-orang malang,” dalam sebuah lagunya. Di semua negara ada cerita duka dan jaya. Di Aceh, khususnya Banda Aceh sendiri sebagai ibukota provinsi berpenduduk 4.3 juta jiwa ini, terdapat banyak cerita duka dan jaya. Baca selanjutnya »

Menggagas Kongres dan Duek Pakat Pang Ulee Aceh

Opini Harian Aceh, Kamis 29 Juli 2010 | Oleh Thayeb Loh Angen

Kesibukan tokoh di Aceh meributkan perkara politik sehingga perkara ekonomi dan pembangunan agak terabaikan. Hanya ada beberapa kalangan yang mengkritisi kebijakan pemerintah yang menurut mereka salah, sementara tidak ada yang berinisiatif mencegah semua kesalahan dan membangun Aceh secara utuh dari segala sektor.

Alangkah baik dan bergunanya untuk perubahan peradaban, jika rakyat Aceh, khususnya orang-orang yang merasa dirinya ahli atau pakar ekonomi berkongres untuk membuat bluemap tentang arah ekonomi dan pembangunan Aceh, di setiap wilayah. Tentu saja pembangunan dan model terapan berbeda antara satu dan lain wilayah, menurut budaya masyarakat dan kondisi alam.

Kongres tersebut sebaiknya dipimpin oleh Gubernur Aceh atau Ketua DPR Aceh, karena semua tanggungjawab tentang masa depan Aceh sebagian besar telah di pundak mereka. Kongres ini melahirkan rancangan pembangunan dalam segala bidang, sehingga semua kebijakan terarah dan sesuai dengan aspirasi rakyat, tidak sektoral atau bertindih program, serta anggaran APBA cepat terpakai dengan tepat. Baca selanjutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.